Konsekuensi 2 Kalimat Syahadat

by gito on 09:29 AM, 11-Mar-13

Category: ARTIKEL ISLAM

Sebagian kaum muslimin masih
belum mengerti makna dan
konsekuensi kalimat syahadat,
mereka hanya mengetahui
kalimatnya saja dan mereka
ucapkan tanpa mengetahui makna yang terkandung di
dalamnya. Dua kalimat syahadat
ini adalah kalimat thoyyibah
yang mana dengan kalimat inilah
seseorang dikatakan seorang
muslim. Rasulullah Bersabda: "Apabila mereka mengucapkan
(Laa Ilaaha Illallah), maka
kehormatan dan harta mereka
terjaga dariku kecuali dengan
haknya, dan perhitungan
mereka atas Allah Subhanahu wa Ta'ala". ]Hadits Shahih
diriwayatkan oleh Al-Bukhari
(25) dan pada tempat lainnya,
dan Muslim (22), dan selainnya,
dari hadits Ibnu Umar
Radhiyallahu anhum] Namun perlu diketahui
pengucapan tanpa keyakinan
adalah sia-sia belaka, maka dari
itu pengucapan kalimat syahadat
diperlukan pengetahuan dan
keyakinan yang kuat bukan hanya pengucapan saja karena
iman adalah di ucapkan oleh
lisan, diyakini oleh hati, dan
dilaksanakan oleh anggota
tubuh. Seseorang belum
dikatakan beriman jika tidak merealisasikan tiga paket
tersebut, sebagaimana firman
Allah menerangkan perkataan
orang-orang munafik: Artinya: “Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta” ( Al-Baqarah : 8-10 ) MAKNA LA ILAA HA ILLALLAH Kebanyakan bahkan bisa
dikatakan masyhur makna la ilaa
ha illallah adalah tidak ada tuhan
kecuali Allah. Sadar atau tidak,
makna seperti ini adalah sebuah
kesalahan dimana makna tersebut jauh dari tauhid yang
benar. Fahami baik-baik makna
tersebut, “ tidak ada tuhan
kecuali Allah” ini berarti seluruh
sembahan-sembahan yang
berada di muka bumi ini adalah Allah, jika ada yang membantah
makna kecuali di situ adalah
pengecualian bukan
pengkultusan, maka tetap saja
maknanya tidak sejalan dengan
kenyataan yang ada sekarang ini, yang mana banyak sekali
tuhan-tuhan selain Allah yang
disembah oleh orang-orang kafir
musyrik, ada latta, uzza, manat,
ada yang menyembah matahari,
batu, kuburan, hewan, patung- patung dan lain sebagainya yang
mana itu semua dijadikan tuhan-
tuhan selain Allah. Lantas apa
makna yang benar…? Makna la
ilaa ha illallah yang benar adalah
la ma’buda bil haqqin illallah yang artinya tidak ada ilah
( sesembahan ) yang berhak di
ibadahi kecuali Allah, Allah
Berfirman: (yang artinya): “Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah Dialah (tuhan) yang haq dan Sesungguhnya segala sesuatu yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil. Dan Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. Al Hajj: 62). Allah juga berfirman (yang
artinya): “Maka barangsiapa yang ingkar kepada sesembahan selain Allah dan beriman pada Allah, sungguh dia telah berpegang pada tali yang sangat kuat.” (QS. Al Baqarah:256) Dalam kalimat la ilaa ha illallah
terdapat 2 rukun yang wajib kita
imani yakni penafian ( tidak ada
sembahan yang haq ) dan
penetapan ( kecuali Allah ).
Artinya adalah seluruh sembahan yang ada seperti
kuburan, patung-patung, jin,
batu dan lain sebagainya adalah
batil dan haram untuk disembah,
karena masih banyak kaum
muslimin yang melakukan demikian, mereka minta-minta
kepada kuburan orang shalih,
mengadakan sesajen untuk jin,
mencari keberkahan di tempat-
tempat tertentu yang tidak
ditetapkan syari’at bahkan ada yang menyembah akal mereka,
mendahului akal daripada
wahyu Allah, menolak syari’at
Allah dengan congkak, mereka
itu sungguh berada dalam
kesesatan yang nyata, ( saya berlindung dari yang demikian
itu ). Allah berfirman: Artinya: “ hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami minta pertolongan .” ( Al-Fatihah : 5 ) Dan penetapan dalam kalimat la
ilaa ha illallah maknanya adalah
mengesakan Allah dalam
rububiyyah ( penciptaan ),
uluhiyyah ( peribadatan ), dan
asma’ wash sifat ( nama-nama dan sifat Allah ) serta keikhlasan
dalam beribadah, tidak
mengharap sesuatu kecuali
pahala dari Allah, seluruh amal
kita, ibadah kita dan setiap gerak
gerik kehidupan kita, kita ikhlaskan untuk Allah semata,
tidak mengharap pujian dari
manusia, tidak mengharap
balasan harta kekayaan. Maka dari itu pemaknaan yang
tersebar luas baik dalam kitab-
kitab ataupun yang disebutkan
oleh para penceramah seperti “
tidak ada tuhan kecuali Allah”, ini
adalah pemaknaan yang salah karena pada kenyataannya
banyak tuhan-tuhan selain Allah,
ada juga yang memaknai “ tidak
ada tuhan melainkan Allah” ini
justru pemaknaan yang
menyesatkan karena itu berarti tuhan-tuhan yang ada di muka
bumi ini adalah allah, ada juga
yang mengartikan “ tidak ada
pencipta kecuali allah” inipun
tidak cukup karena hanya
membatasi rububiyyahnya ( penciptaan ) saja, maka yang
betul adalah la ma’buda bil
haqqin illallah yakni tidak ada
ilah ( sembahan ) yang paling
berhak disembah ( diibadahi )
kecuali allah. dan bukan itu saja, pengucapan la ilaa ha illallah
tanpa di iringi pengetahuan
tentang maknanya dan
keimanan yang kuat, maka
dikhawatirkan ucapan itu hanya
isapan jempol semata, berikut penjelasan ringkas syeikh albani
dalam masalah ini "Maka mungkin saja orang yang
mengucapkan kalimat thayyibah
dengan ikhlas dijamin masuk
Surga. meskipun setelah
mengucapkannya menerima
adzab terlebih dahulu. Orang yang meyakini keyakinan yang
benar terhadap kalimat
thayyibah ini, maka mungkin saja
dia diadzab berdasarkan
perbuatan maksiat dan dosa
yang dilakukannya, tetapi pada akhirnya tempat kembalinya
adalah Surga. Dan sebaliknya barangsiapa
mengucapkan kalimat tauhid ini
dengan lisannya, sehingga iman
belum masuk kedalam hatinya,
maka hal itu tidak memberinya
manfaat apapun di akhirat, meskipun kadang-kadang
memberinya manfaat di dunia
berupa kesalamatan dari
diperangi dan dibunuh, apabila
dia hidup di bawah naungan
orang-orang muslim yang memiliki kekuatan dan
kekuasaan. Adapun di akhirat,
maka tidaklah memberinya
manfaat sedikitpun kecuali
apabila : [1] Dia mengucapkan dan
memahami maknanya.
[2] Dia meyakini makna tersebut,
karena pemahaman semata
tidaklah cukup kecuali harus
dibarengi keimanan terhadap apa yang dipahaminya. Saya menduga bahwa
kebanyakan manusia lalai dari
masalah ini ! Yaitu mereka
menduga bahwa pemahaman
tidak harus diiringi dengan
keimanan. Padahal sebenarnya masing-masing dari dua hal
tersebut (yaitu pemahaman dan
keimanan) harus beriringan satu
sama lainnya sehingga dia
menjadi seorang mukmin. Hal itu
karena kebanyakan ahli kitab dari kalangan Yahudi dan
Nashrani mengetahui bahwa
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa
sallam adalah seorang rasul yang
benar dalam pengakuannya
sebagai seorang rasul dan nabi, tetapi pengetahuan mereka
tersebut yang Allah Azza wa Jalla
telah mepersaksikannya dalam
firman-Nya. "Artinya : Mereka (ahlul kitab dari
kalangan Yahudi dan Nashara)
mengenalnya (Muhammad)
seperti mereka mengenal anak-
anaknya sendiri ...." [Al-Baqarah :
146 & Al-An'am : 20] Walaupun begitu, pengetahuan
itu tidak bermanfaat bagi mereka
sedikitpun ! Mengapa ? Karena
mereka tidak membenarkan apa-
apa yang diakui oleh beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam berupa nubuwah (kenabian)
dan risalah (kerasulan). Oleh
karena itu keimanan harus
didahului dengan ma'rifah
(pengetahuan). Dan tidaklah
cukup pengetahuan semata- mata, tanpa diiringi dengan
keimanan dan ketundukan,
karena Al-Maula Jalla Wa' ala
berfirman dalam Al-Qur'an : "Artinya : Maka ketahuilah
bahwa tidak ada sesembahan
yang berhak diibadahi kecuali
Allah dan mohon ampunlah atas
dosa mu ......." [Muhammad : 19]. Berdasarkan hal itu, apabila
seorang muslim mengucapkan
Laa Ilaaha Illallah dengan
lisannya, maka dia harus
menyertakannya dengan
pengetahuan terhadap kalimat thayyibah tersebut secara
ringkas kemudian secara rinci.
Sehingga apabila dia
mengetahui, membenarkan dan
beriman, maka dia layak untuk
mendapatkan keutamaan- keutamaan sebagaimana yang
dimaksud dalam hadits-hadits,
diantaranya adalah sabda
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam sebagai isyarat secara
rinci : "Artinya : Barangsiapa
mengucapkan Laa Ilaaha Illallah,
maka bermanfaat baginya
meskipun satu hari dari
masanya". [Hadits Shahih.
Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah
(1932) dan beliau
menyandarkan kepada Sa'id Al-
A'rabi dalam Mu'jamnya, dan Abu
Nu'aim dalam Al-Hidayah (5/46)
dan Thabrani dalam Mu'jam Al- Ausath (6533), dan daia dari
Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu
'Anhu] Yaitu : Kalimat thayyibah ini -
setelah mengetahui maknanya-
akan menjadi penyelamat
baginya dari kekekalan di
Neraka. Hal ini saya ulang-ulang
agar tertancap kokoh di benak kita." ( At-Tauhid Awwalan Ya Du'atal
Islam, edisi Indonesia TAUHID Prioritas Pertama dan Utama, oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin
Al-Albani, hal 16-26, terbitan
Darul Haq, penerjemah Fariq
Gasim Anuz] MAKNA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ABDUHU WA RASULUHU Makna bahwa Muhammad adalah
hamba dan utusan-Nya yaitu
bahwa kita beriman kepada
beliau, membenarkan apa yang
beliau bawa, dan tidak bersifat
berlebihan kepada beliau karena beliau juga hanyalah seorang
manusia biasa, hanya saja beliau
adalah utusan Allah, seorang
yang terbebas dari kesalahan,
maka kita wajib memuliakan
beliau apa adanya, tidak berlebihan karena Rasulullah
sendiri tidak suka sikap
berlebihan. Ironisnya ada yang
menyembah kubur beliau,
bertawassul kepada beliau dan
lain-lain, ini merupakan sikap berlebihan. Serta mengimani
bahwa beliau adalah penutup
para nabi dan rasul.
Dari penjelasan yang sangat
ringkas di atas, maka dapat kita
simpulkan bahwa dengan 2 kalimat syahadat tersebut,
terdapat syarat yang harus kita
penuhi, diantaranya yaitu: . Mentauhidkan Allah Ini adalah syarat mutlak yang
harus kita laksanakan Karena
kalau tidak, berapa kali pun kita
mengucapkan la ilaa ha illallah
maka tidak akan bermanfa’at
sedikitpun di dunia dan akhirat. Percuma saja kita mengucapkan
La ilaa ha illah tapi masih
meminta-minta pada kuburan,
mengadakan sesaji-sesaji
kepada jin, meminta pertolongan
kepada jin, bekerja sama dengan jin, memelihara benda-benda
pusaka, meyakini ramalan-
ramalan, mempercayai adanya
pencipta selain Allah, menolak
nama dan sifat yang telah Allah
tetapkan, dan yang tidak kalah penting yakni membuat syari’at
baru dalam agama karena
syari’at yang membuatnya
adalah Allah maka jika ada yang
membuat syari’at baru dia masuk
ancaman Allah yang telah berfirman: Artinya: “Apakah mereka mempunyai sembahan- sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang lalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” ( Asy-Syuura : 21 ) Ini adalah sejelas-jelas dalil
bahwa hanya Allah yang berhak
menentukan syari’at,
barangsiapa yang membuat
syari’at baru yang tidak di
izinkan Allah, maka dia telah tersesat sangat jauh. Imam asy-
Syafi’I berkata: “ barangsiapa
menganggap baik sesuatu
( yang tidak dilandasi oleh
syari’at islam ) maka dia telah
membuat syari’at, barangsiapa yang membuat-buat syari’at,
maka dia telah kufur “ . Ikhlas Allah berfirman ( yang artinya ): Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang- orang yang beriman pahala yang besar. Banyak disepelekan orang
namun berdampak besar bagi
kehidupan dunia dan akhirat,
itulah ikhlas. Ikhlas menurut
bahasa adalah sesuatu yang murni yang tidak tercampur
dengan hal-hal yang bisa
mencampurinya. Dikatakan
bahwa “madu itu murni” jika
sama sekali tidak tercampur
dengan campuran dari luar, dan dikatakan “harta ini adalah murni
untukmu” maksudnya adalah
tidak ada seorangpun yang
bersyarikat bersamamu dalam
memiliki harta ini. Hal ini
sebagaimana firman Allah tentang wanita yang
menghadiahkan dirinya untuk
Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, Artinya: “Dan perempuan mu’min yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu’min. (QS. Al Ahzaab: 50). Sedangkan menurut istilah Para
ulama bervariasi dalam
mendefinisikan ikhlas namun
hakekat dari devinisi tersebut
sama. Diantara mereka ada yang
mendefenisikan bahwa ikhlas adalah “menjadikan tujuan
hanyalah untuk Allah tatkala
beribadah”, yaitu jika engkau
sedang beribadah maka hatimu
dan wajahmu engkau arahkan
kepada Allah bukan kepada manusia. Ada yang mengatakan
juga bahwa ikhlas adalah
“membersihkan amalan dari
komentar manusia”, yaitu jika
engkau sedang melakukan
suatu amalan tertentu maka engkau membersihkan dirimu
dari memperhatikan manusia
untuk mengetahui apakah
perkataan (komentar) mereka
tentang perbuatanmu itu.
Cukuplah Allah saja yang memperhatikan amalan
kebajikanmu itu bahwasanya
engkau ikhlas dalam amalanmu
itu untukNya. Dan inilah yang
seharusnya yang diperhatikan
oleh setiap muslim, hendaknya ia tidak menjadikan perhatiannya
kepada perkataan manusia
sehingga aktivitasnya
tergantung dengan komentar
manusia, namun hendaknya ia
menjadikan perhatiannya kepada Robb manusia, karena
yang jadi patokan adalah
keridhoan Allah kepadamu
(meskipun manusia tidak
meridhoimu). Ada juga mengatakan bahwa
ikhlas adalah “samanya amalan-
amalan seorang hamba antara
yang nampak dengan yang ada
di batin”, adapun riya’ yaitu
dzohir (amalan yang nampak) dari seorang hamba lebih baik
daripada batinnya dan ikhlas
yang benar (dan ini derajat yang
lebih tinggi dari ikhlas yang
pertama) yaitu batin seseoang
lebih baik daripada dzohirnya, yaitu engkau menampakkan
sikap baik dihadapan manusia
adalah karena kebaikan hatimu,
maka sebagaimana engkau
menghiasi amalan dzohirmu
dihadapan manusia maka hendaknya engkaupun
menghiasi hatimu dihadapan
Robbmu.
Ada juga yang mengatakan
bahwa ikhlas adalah,
“melupakan pandangan manusia dengan selalu memandang
kepada Allah”, yaitu engkau lupa
bahwasanya orang-orang
memperhatikanmu karena
engkau selalu memandang
kepada Allah, yaitu seakan-akan engkau melihat Allah yaitu
sebagaimana sabda Nabi
shalallahu ‘alaihi wasallam
tentang ihsan “Engkau
beribadah kepada Allah seakan-
akan engkau melihatNya dan jika engkau tidak melihatNya maka
sesungguhnya Ia melihatmu”.
Barangsiapa yang berhias
dihadapan manusia dengan apa
yang tidak ia miliki (dzohirnya
tidak sesuai dengan batinnya) maka ia jatuh dari pandangan
Allah, dan barangsiapa yang
jatuh dari pandangan Allah maka
apalagi yang bermanfaat
baginya? Oleh karena itu
hendaknya setiap orang takut jangan sampai ia jatuh dari
pandangan Allah karena jika
engkau jatuh dari pandangan
Allah maka Allah tidak akan
perduli denganmu dimanakah
engkau akan binasa, jika Allah meninggalkan engkau dan
menjadikan engkau bersandar
kepada dirimu sendiri atau
kepada makhluk maka berarti
engkau telah bersandar kepada
sesuatu yang lemah, dan terlepas darimu pertolongan Allah, dan
tentunya balasan Allah pada hari
akhirat lebih keras dan lebih
pedih. ( Definisi-definisi ini
sebagaimana juga yang
disampaikan oleh Ahmad Farid dalam kitabnya “Tazkiyatun
Nufus” hal. 13). Dan ikhlas meliputi seluruh aspek
peribadatan bahkan sampai
dakwah. Selayaknya inilah yang
harus diperhatikan oleh para da’i
kaum muslimin yakni berdakwah
hanya mengharap wajah Allah semata, bukan harta, popularitas
dan lain sebagainya. Tidak
sedikit da’i yang memasang tarif
untuk berceramah
menyampaikan agama Allah, gila
popularitas, ingin dipandang sebagai orang alim sehingga
mereka bangga terhadap jumlah
pengikut mereka. Oleh karena itu banyak para imam salaf yang benci ketenaran. Mereka senang kalau nama mereka tidak
disebut-sebut oleh manusia.
Mereka senang kalau tidak ada
yang mengenal mereka. Hal ini
demi untuk menjaga keihlasan
mereka, dan karena mereka khawatir hati mereka terfitnah
tatkala mendengar pujian
manusia.
Berkata Abu Hazim Salamah bin
Dinar “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan kejelekan- kejelekanmu.” (Berkata Syaikh Abdul Malik , “Diriwayatkan oleh
Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa
At-Tarikh (1/679), dan Abu
Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/240),
dan Ibnu ‘Asakir dalam tarikh
Dimasyq (22/68), dan sanadnya sohih”. Lihat Sittu Duror hal. 45). Dalam riwayat yang lain yang
diriwayatkan oleh Al-Baihaqi
dalam Syu’ab Al-Iman no 6500
beliau berkata, “Sembunyikanlah kebaikan- kebaikanmu sebagiamana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga)”. Berkata Hammad bin Zaid: “Saya
pernah berjalan bersama Ayyub
(As-Sikhtyani), maka diapun
membawaku ke jalan-jalan
cabang (selain jalan umum yang
sering dilewati manusia-pen), saya heran kok dia bisa tahu
jalan-jalan cabang tersebut ?!
(ternyata dia melewati jalan-jalan
kecil yang tidak dilewati orang
banyak) karena takut manusia
(mengenalnya dan) mengatakan, “Ini Ayyub” (Berkata Syaikh
Abdul Malik Romadhoni:
“Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad
(7/249), dan Al-Fasawi dalam Al-
Ma’rifah wa At-Tarikh (2/232),
dan sanadnya shahih.” (Sittu Duror hal 46)). Berkata Imam Ahmad: “Aku
ingin tinggal di jalan-jalan di sela-
sela gunung-gunung yang ada
di Mekah hingga aku tidak
dikenal. Aku ditimpa musibah
ketenaran”. (As-Siyar 11/210). Pernah Imam Ahmad
mengatakan kepada salah
seorang muridnya (yang
bernama Abu Bakar) tatkala
sampai kepadanya kabar bahwa
manusia memujinya: “Wahai Abu Bakar, jika seseorang
mengetahui (aib-aib) dirinya
maka tidak bermanfaat baginya
pujian manusia”. (As-Siyar
11/211).
Dan masih banyak sekali contoh dari para imam salaf yang sangat
hati-hati dan takut akan riya’ dan
sum’ah ( ingin di puji orang ). 3. Ittiba’ Secara bahasa artinya mengikuti
dan menurut istilah adalah
mencontoh Rasulullah dalam
seluruh aspek peribadatan tanpa
menambah dan menguranginya.
Allah berfirman Artinya: “...Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” ( Al- Hasyr : 7 ) dan juga firman-Nya: Artinya: ” Katakanlah ( wahai muhammad ) "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( Ali imran : 31 ) Perlu diketahui bahwa syarat
diterimanya ibadah seseorang
adalah karena 2 hal: - Ikhlas
- Ittiba’ Tidak akan diterima ibadah
seseorang jika tidak
menggabungkan 2 syarat di atas,
jika ada seseorang yang
beribadah dengan ikhlas namun
tidak ittiba’ ( sesuai tuntunan Nabi ) maka tidak akan diterima
ibadahnya karena pada
dasarnya dia mengingkari firman
Allah: Artinya: “..Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku- cukupkan kepadamu nikmat- Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu..” ( Al- Ma’idah : 3 ) Agam islam ini telah sempurna
dan sudah baku, tidak perlu ada
penambahan dan tidak pula
pengurangan, maka dari itulah
jika seseorang beribadah tanpa
tuntunan Rasulullah maka dia telah mencacati kesempurnaan
islam. Namun ada juga yang
beribadah sesuai tuntunan
Rasulullah namun tidak
mengikhlaskan ibadahnya
karena Allah, entah ingin dipuji orang atau yang lainnya, maka
inipun tidak akan diterima oleh
Allah, Allah berfirman: Artinya: “(tetapi dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan” ( Al- Bayyinah : 20-21 ) Itulah balasan orang yang hanya
mengharap wajah Allah semata.
Dari ayat ini hukum sebab akibat
berlaku disini, siapa yang ikhlas
maka mendapat kepuasan dan
siapa yang tidak ikhlas maka tidak akan mendapat kepuasan
bahkan mendapatkan adzab. Namun yang lebih celaka lagi
adalah seseorang beribadah
kepada Allah namun tidak ikhlas
karena Allah dan tidak pula
sesuai tuntunan Nabi shalallahu
alaihi wasallam, akan jadi seperti apa orang ini. Maka 2 paket
itulah yang harus di penuhi oleh
seorang hamba ketika ia
beribadah kepada Allah. wallahu
a'lamt

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

No comments yet. Why not make the first one!

New Comment

[Sign In]
Name:

Comment:
(You can use BBCode)

Security:
Enable Images